Rabu, 24 September 2014

Antara Sastrawan dan Kritikus Sastra


Pada suatu malam, secara tidak sengaja saya perjumpa dengan salah satu rekan saya dulu. Pertemuan itu terjadi di warung kopi, tempat yang biasa saya kunjungi sekedar untuk melepas penat selama berkumul sendirian di dalam kos dengan tugas dan pekerjaan yang menumpuk. Pada waktu menjadi mahasiswa, saya menghabiskan waktu di warung kopi bersama rekan-rekan saya yang merupakan mahasiswa-mahasiswa aktivis yang senang berdiskusi. Di warung kopi, sudah biasa kami membicarakan banyak hal tentang hidup, manusia dan dinamisasinya.

Pada kesempatan tersebut, barangkali karena memiliki kebiasaan yang sama, yaitu berdiskusi di warung kopi, kami secara tidak sadar tenggelam dalam acara diskusi ringan. Waktu itu, tiba-tiba kami membicarakan topik tentang Sastra. Ini barangkali dipengaruhi karena saya adalah alumni jurusan sastra, dan dia adalah alumni sekaligus pegiat sastra yang kini tengah menempuh magisternya di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta.

Dia bercerita banyak hal tentang sastra, kemudian dia sampai kepada kebingungannya ketika menulis sebuah karya sastra. Dia membicarakan tentang novel yang tengah dia garap, yaitu sebuah novel “kontroversial” menurutnya. Di dalamnya dia melawan nilai-nilai masyoritas yang tengah berkembang dan menjadi hal biasa dalam kehidupan sosial masyarakat kita dewasa ini.

Ada satu hal yang membuat saya tergelitik mendengar paparannya. Terlepas dari isi novel yang tengah dia garap, yang ia klaim sebagai novel “penantang arus” itu, saya tersekap dengan pernyataannya, “nanti novel saya ini akan dikaji menggunakan teori postkolonial.”

Ketersekapan saya oleh pernyataan tersebut barangkali dipengaruhi oleh “sifat berkarya” yang saya milki. Saya jadi bertanya, apakah tujuan diciptakannya karya sastra tersebut hanya untuk dikritisi, dianalisis dengan segudang teori sastra yang telah dihasilkan oleh para akdemisi?

Memang kenyataan bahwa teori sastra muncul karena perekembangan pengetahuan tentulah merupakan keniscayaan, tetapi itu semua harusnya dilakukan dalam tataran ilmiah maupun tugas akademik. Yang membuat saya heran disini, betapa hegemoni teori telah terlampau jauh mengambil dalam mainset seseorang lulusan fakultas sastra, sampai-sampai untuk berkarya dia sudah memikirkan tentang teori yang akan digunakan oleh para analis nanti terhadap karyanya. Hal demikian, di samping akan membuat karya sastra tersendat (tidak akan cepat selesai), juga telah mendisorientasi fungsi sastra sebagai nilai-nilai sosial. Sekali lagi, apakah karya sastra diciptakan hanya untuk dianalisis?

Saya jadi teringat pernyataan Robert Escarpit dalam bukunya Literature Sosiology, disana dia menyatakan “dulu karya sastra dimiliki masyarakat, sekarang karya sastra diciptakan masyarakat.” pernyataan ini memberi gambaran betapa karya sastra masa lalu, meskipun tidak diketahui penciptanya, namun tetap dijadikan panduan dalam tingkah laku sehari-hari, dalam hal ini sastra telah menjadi sumber nilai dalam masyarakat. Kenyataan berbeda terjadi dewasa ini, dimana karya sastra telah banyak diciptakan oleh masyarakat kita, namun tidak memilki fungsi sebagai penegak moral masyarakat, disinilah muncul istilah sastra komoditas. Artinya, sastra hanya untuk kepentingan materi.

Jika para lulusan sastra maupun para pengkajinya memiliki pandangan seperti salah seorang teman saya tadi, maka ada hipotesa yang muncul, “selama ini, secara akademik jurusan-jurusan sastra yang ada di Indonesia ini, baik yang sudah maju dan terkenal maupun yang baru dan masih berkembang, hanya akan melahirkan kritikus atau analis sastra, bukan seorang sastrawan. Jika benar demikian, maka kita telah kehilangan kesempatan untuk menjadikan karya sastra lebih dari hanya sekedar dunia kata. Fungsi sastra hanya berkutat pada apa yang disebut dengan kegiatan analisis.

Seharusnya, di samping mencetak kritikus, jurusan-jurusan sastra seharusnya juga bisa mencetak seorang sastrawan. Mungkin ini terkesan memformalkan terminologi sastrawan sebagai hal yang hanya bisa didapat melalui bangku kuliah. Memang benar, sastrawan tidak hanya muncul melalui bangku kuliah, namun atau bahkan lebih banyak dicetak oleh alam dengan tidak mempedulikan latar belakang. Tapi kenyataan bahwa jurusan sastra yang sekarang kita miliki hanya mecetak kritikus membuat saya berharap, kedepannya tidak hanya kritikus, tapi juga seorang sastrawan.


Sebagai seorang alumni jurusan sastra, saya menaruh harapan saya pada teman diskusi saya malam itu, dia yang kini tengah bergelut dengan teori-teori sastra yang juga mungkin dia komparasikan dengan teori-teori keilmuaan lain untuk mengembangkan sastra dengan sungguh-sungguh dan bijak. Tapi saya harap, ketika dia mulai berkarya, sebaiknya teori-teori ditanggalkan dahulu, agar karya sastra benar-benar lahir dari diri seorang sastrawan, yang mana hal tersebut memanifestasi sosial dan latar budaya yang dimiliki.    

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz