Rabu, 24 September 2014

Dekonstruksi Prilaku Koruptif Mahasiswa



Masih tentang pelajaran di warung kopi. Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman saya (kali ini di sengaja) di sebuah warung kopi. Dia adalah salah satu mahasiswa sarjana satu di salah satu perguruan tinggi Islam di kota Yogyakarta. Sebagaimana yang pernah saya ceritakan, di warung kopi kami tidak pernah menentukan tema pembicaraan, semuanya mengalir begitu saja.

Pada kesempatan itu, tanpa sengaja kami membincang perihal kabar mahasiswa. Saya yang merupakan salah satu “mantan” mahasiswa ingin mengetahui dunia mereka saat ini. Awalnya, dia mengajak saya membicarakan dosennya. Katanya, “dosen sudah tidak lagi nampak profesional sebagai seorang pengajar, mereka lebih banyak disibukkan dengan kegiatan di luar kota (apakah itu berupa proyek dan sebagainya).” Kemudian dia juga menyayangkan teman-temannya yang kebanyakan semakin jauh dari tradisi-tradisi akademik yang seharusnya mereka lakukan, seperti membca buku, menulis, berdiskusi dan sebagainya.

Sampai disitu, saya tidak terlalu heran, itu adalah fenomena klasik. Dulu waktu saya jadi mahasiswa juga demikianlah keadaan yang saya temui. Setelah selesai membahas hal tersebut, kami diam sejenak, sembari menikmati minuman yang kami pesan.

Lama terdiam, dia seolah menyimpan kebingungan. Ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan. Melihat hal tersebut, saya langsung menanyakan, “ada apa?”

Dia tersenyum, kini dengan raut yang sedikit malu, “Cak, aku ingin kerja, ingin mandiri, tidak mau menjadi beban orang tua lagi.”

Perhatian saya sejenak terfokus pada pembicaraan orang di hadapan saya. Itu adalah kasus yang dulu saya alami, tapi tak sempat mencurahkannya kepada siapapun. “oh terus?”

Saya tidak tahu apa kaitan yang ia nyatakan dengan apa yang dia ceritakan. Sebelum meneruskan untuk menyampaikan perihal keinginannya, dia justru menceritakan tentang teman-temannya. Dari sekian panjang cerita yang dia sampaikan, saya dapat menyimpulkan beberapa kasus mahasiswa yang terjadi berkaitan dengan urusan finansial.

Rata-rata mahasiswa yang dia ketahui, selalu berbohong kepada orang tuanya dalam masalah tugas-tugas akademik. Kebohongan-kebohongan itu biasanya mencakup nilai uang yang harus dikeluarkan mahasiswa. Misalnya dalam tugas membuat makalah, mahasiswa sering mengatakan ke orang tuanya, biaya pembuatannya sampai seratusan ribu rupiah. Nah, inilah yang aneh, menurut saya makalah mahasiswa sarjana satu itu tidak lebih dari sepuluh ribu (Rp. 10.000).

Rinciannya, taruh saja biaya print out adalah 100 rupiah perlembar, dikalikan sepuluh halaman menjadi seribu rupiah. Ditambah biaya jilid dua ribu rupiah (ini harga dulu ketika saya menjadi mahasiswa). Hanya tiga ribu rupiah!! Itu jika mahasiswanya benar-benar mengerjakan, tapi jika men-copas, maka ada tambahan biaya internet Rp.3.000 perjam. Jadi maksimal harga makalah mahasiswa adalah Rp.6.000.

Ini tentulah biaya yang sangat sedikit dari seratus ribu yang diminta ke orang tua. Bayangkan jika makalah setiap minggunya ada ditugaskan oleh dosen, maka akan ada ratusan ribu uang yang “dikorupsikan” oleh seorang mahasiswa. Sampai pembicaraan ini, saya pun sedikit tersindir, karena dulu awal-awal kuliah, saya “terdoktrinasi” oleh teman-teman saya untuk melakukan hal demikian. Dengan begitu, semakin nyata hepotesa bahwa mahasiswa rata-rata berlaku korup selama menjalani tugas akademik.

Itulah kemudian yang melatarbelakangi teman saya itu untuk mencari pekerjaan. Dia tidak mau menjadi beban orang tua, tidak tega untuk berbohong dan berbohong lagi. Ini tentulah hal yang luar biasa dan seharusnya di contoh oleh mahasiswa-mahasiswa yang lainnya.

Saya tidak ingin menyelesaikan tulisan ini dengan bagaimana akhir diskusi saya malam itu, saya akan akhiri tulisan ini dengan beberapa analisis yang menyebabkan mahasiswa bertindak demikian dan bagaimana seharusnya jalan keluar dari fenomena tersebut.

Berangkat dari kisah di atas, fenomena koruptif di kalangan mahasiswa ternyata (atau sebenarnya?) sudah tidak bisa dihindari lagi. Ini adalah persoalan akar rumput, yang tatarannya bukan lagi konstitusi, tapi budaya dan kepribadian diri. Maka tidak heran jika negeri ini selalu bingung dengan penyelesaian masalah korupsi. Yah, mungkin karena kita lupa bahwa Indonesia secara tidak sengaja telah menanamkan benih koruptif saat generasi penerusnya melakoni studi di masa muda.

Dalam hal ini, ada benarnya pendapat seorang guru besar (yang saya lupa namanya) bahwa korupsi di Indonesia adalah sebuah budaya. Iya, budaya akar rumput inilah yang mungkin dimaksudkan. Dan ini tentulah bukan hal yang sederhana, tapi membutuhkan solusi yang cukup rumit berupa “dekonstruksi kultural.”

Sebelum kita menentukan kesimpulan dan jalan yang harus kita lalui untuk mencoba menyelesaikan persoalan di atas, saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya, budaya koruptif tersebut bukanlah kebudayaan warisan (original culture), tapi dia lebih sebagai sebuah sub-kultur yang merupakan anak kebuadayaan (reproduksi kebudayaan) yang “tak diinginkan.”

Dalam teori sosial, kita mengenal terminologi Transaksionisme Simbolik. Teori yang berangkat dari filsafat pragmatisnya Hegel ini menyatakan bahwa kehidupan seseorang tidak berjalan kronologis, tapi sangat dipengaruhi oleh transaksi-transaksi sosial. Dalam hal ini, prilaku koruptif yang muncul di kalangan mahasiswa sangat dimungkinkan terjadi karena pergesekan sosial. Sebagaimana saya katakan, bahwa dahulu saya sempat melakukan fenomena seperti di atas dan itu dipengaruhi oleh teman-teman sekamar saya.

Dari pemahaman di atas, sekarang kita sampai pada pertanyaan, bagaimana mengakhiri itu semua? (dalam bahasa mahasiswanya “mendekonstruksinya”)

Hal paling penting yang harus dilakukan adalah membentuk mental(itas) mandiri pada diri mahasiswa. Artinya, seorang mahasiswa, disamping dididik menurut fokus jurusan mereka, juga harus dibekali materi interpreneur yang akan membentuknya menjadi seorang usahawan. Dalam hal ini peran orang tua juga sangat diperlukan. Salah satu bentuk kontribusi orang tua yang diharapkan adalah dengan berlaku selektif dalam memberikan biaya akademik sang anak.

Kedua, kampus sebisa mungkin menyediakan lapangan pekerjaan yang sifatnya part time bagi mahasiswa. Salah satu contoh kongkritnya adalah memberikan waktu les-lesan kepada mereka. Ini tentunya akan sangat berdampak positif, di samping memberikan kesempatan untuk mendapatkan uang sendiri, juga bisa menjadi lapangan praktik untuk keilmuan mereka (khususnya yang jurusan pendidikan). Dalam hal ini mungkin kerjasama kampus dengan lembaga-lembaga pendidikan sangat diperlukan. Adapun bagi mahasiswa non pendidikan, kampus juga tetap bisa menyediakan lapangan usaha dengan cara menyediakan pinjaman modal usaha bagi mahasiswa yang ingin berwirausaha. Ini tentulah akan mendapat sambutan yang sangat positif mengingat beberapa teman-teman saya dahulu sangat senang melakukan wirausaha, meskipun dengan modal pas-pasan.

Selanjutnya, untuk menghilangkan prilaku koruptif mahasiswa di atas, mereka harus memilki kepedulian dan rasa kasihan kepada orang tua mereka. Jika rasa kasihan ini ada, apa mungkin seseorang mahasiswa tega meminta uang dengan alasan untuk kebutuhan akademik padahal tidak demikian? Akhirnya semoga kita bisa belajar untuk menjadi calon-calon pemipin bangsa yang terlepas dari perilaku koruptif meskipun dari hal terkecil. Sesungguhnya hal kecil itulah yang menentukan seseorang akan menjadi baik ataukah buruk di masa yang akan datang.

Adapaun jika, kita pernah sempat melakukan “dosa” tersebut saat menjadi mahasiswa, kita beristighfar untuk itu, dan marilah kita berusaha bersama-sama untuk menanamkan jiwa kemandirian pada diri kita dan pada adik-adik kita juga usaha-usaha lain yang mendukung hal tersebut guna mendekonstruksi prilaku koruptif di kalangan mahasiswa.  



0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz