Rabu, 24 September 2014

Dinamitas Problematika Manusia ; Bercermin dari Kasus Florence


“Internet telah menjadi suatu komunitas sosial yang baru, hal tersebut membuat kajian tentang antropologi semakin mengalami hambatan.” Demikian yang dinyatakan Irwan Abdullah dalam bukunya Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan (2007). Berkaitan dengan hal tersebut, belakangan ini gencar diberitakan tentang Florence, seseorang yang dituntut pidana karena melakukan celotehan di media sosial online yang dianggap menghina orang lain.

Nama Florence mencuat di media massa setelah melontarkan kata-kata yang berbau penghinaan kepada masyarakat Jogja. Mungkin wanita itu tidak menyadari akan dampak yang luar biasa dari celotehannya, yang menurut dia mungkin sepele. Tidak tanggung-tanggun kasus tersebut kini bergulir di ranah hukum dan dianggap sebagai tindak pidana kriminalitas.

Banyak yang menilai bahwa kasus Florence terlalu berlebihan jika harus dibawa ke ranah hukum. Mereka berpendapat bahwa apa yang dilontarkannya di media sosial Path adalah kebebasan berekspresi. Namun demikian sebagai mereka tetap bersikukuh untuk mengadili Florence secara hukum, alasannya agar menjadi pelajaran bagi masyarakat umum.

Melihat pro dan kontra tersebut, saya berfikir untuk melihat kasus ini sebagai bagian dari pembelajaran sosial. Iya, ini adalah kasus kecelakaan sosial yang melibatkan salah seorang mahasiswa dengan masyarakat jogja secara khusus.

Secara etika, Florence tentu bersalah besar karena  di samping menghina orang lain, secara tidak langsung dia juga telah merendahkan martabat orang-orang yang telah memberikannya jasa (yakni untuk tinggal di Jogja), mengingat dia adalah mahasiswa salah satu perguaruan tinggi disana. Sehingga dengan demikian, sebenarnya cukup sanksi sosial sebagai hukuman bagi dirinya.

Di sisi lain, pernyataan Florence sebenarnya bisa kita tinjau secara positif, yakni dengan mengambil hikmah dari kejadian tersebut dan dijadikan cermin untuk masyarakat lainnya. Dalam filsafat bahasa atau sering disebut filsafat analitik, suatu pernyataan dinilai menggunakan paradigma “apa makna suatu pernyataan,” bukan “apakah suatu pernyataan benar atau salah.” Jika dikaitkan dengan celotehan Florence dalam akun media sosialnya, maka apakah makna pernyataan itu? jadi tidak langsung menjust bahwa dia telah salah atau sebagainya.

Lebih jauh, jika dikaji secara secara semiotis, keterangan Charles Sunder Piece bisa digunakan untuk menganalisis kata-kata yang dilontarkan Florence. Dalam teorinya (Semiotika Komunikasi), dia berpendapat bahwa dalam sebuah pernyataan, harus dilihat beberpa komponen yang mempengaruhi dalam proses interpretasi teks, yang pertama adalah penutur, kemudian yang kedua adalah situasi dan yang ketiga adalah sasaran teks.

Florence dari segi penutur, secara psikologis, yang bersangkutan ketika melontarkan kata-kata tersebut tentulah dalam keadaan emosi yang sangat meluap serta perasaan malu yang sangat, sehingga kemungkinan kata-kata yang sebenarnya tidak pantas dilontarkan menjadi keluar begitu saja. Maka dari itu, kemungkinan besar dia melontarkan hal tersebut karena situasi, bukan watak pribadi. Ini juga bisa diperkuat dengan data bahwa Florence adalah orang Batak. Dalam tradisi Batak, pepatah “dimana bumi diinjak, disana langit dijunjung” sangat dipegang erat. Dengan demikian, secara individu Florence juga memiliki hak untuk dinilai secara manusiawi.

Dari sisi situasi, keadaan tentulah sangat mempengaruhi apa yang dilontarkan seseorang. Pernyataan Florence jika dilihat dari kronologi yang menyebabkan lontaran kalimat yang tidak senonoh itu adalah karena reaksi dari sikap masyarakat yang meneriaki dirinya ketika menyerobot antrian di SPBU. Tentunya reaksi tidak pernah muncul tanpa suatu perbuatan yang memicunya.

Ketiga, masyarakat jogja sebagai sasaran, seharusnya bisa menjadikan kata-kata tersebut sebagai autocritic terhadap diri mereka. Artinya meskipun pernyataan Florence sangat melukai hati warga Jogja tapi jika dipandang secara general dan hati lapang, disana ada kesempatan untuk mengintrospeksi diri. Misalnya, ketika Florence mengatakan bahwa warga joga itu tolol, tidak berbudaya, hal tersebut bisa langsung direfleksikan pada diri, benarkah demikian? Jika memang tidak demikian, kenapa harus sakit hati? “biarpun anjing menggonggong, kafilah berlalu.”

Sejauh ini masyarakat Jogja memang sudah terkenal sebagai masyarakat yang memiliki nilai budaya yang tinggi, sangat toleran terhadap siapapun yang datang mengungjungi kota mereka, baik mereka yang dari dalam maupun luar negeri. Kenyataan ini sebenarnya sudah menjadi cunter otomatis terhadap apa yang dilontarkan Florence, tidak perlu berlebihan menilai apalagi sampai dibawa ke ranah hukum.

Kasus Florence adalah kasus sosial yang bisa kita petik hikmahnya, diantaranya: menjaga tutur kata. Iya karena “mulutmu harimaumu,” kita harus bisa menguasi lisan kita untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh. Sebagaimana yang dikatakan Kahlil Gibran, “Letakkanlah lidahmu di belakaang jiwamu (kebijaksanaan)”, maka dari itu kita harus bijak dalam bertutur.

Kedua, kasus tersebut bisa menjadi pelajaran bagi seluruh pengguna media sosial untuk membatasi kebebasan berekspresi mereka dengan etika. Di tengah kemajuan teknologi ini, seharusnya niali-nilai moral harus tetap kita junjung tinggi. 

Selanjutnya, kasus tersebut juga bisa menjadi evaluasi bagi para pendidik, dimana kita ketahui bahwa Florence adalah salah seorang peserta didik, maka penting untuk para dosen agar tidak lupa membekali peserta didik mereka dengan etika, baik etika yang menyangkut profesi mahasiswa maupun yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat mereka.

Dunia internet kini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, memandangnya tidak bisa lagi dengan sebelah mata, kasus ini membuat kita harus mengkaji lebih jauh tentang dunia sosial manusia (termasuk sosial media online) sebagaimana kutipan pada paragraf awal tulisan ini.

Kedepannya semoga kasus-kasus seperti ini jangan sampai terulang lagi, kita sudah sering mendengar kasus-kasus yang berawal dari celotehan di media masa seperti Prita, Abbas dan lainnya, maka penting sekali untuk menjaga diri dalam memanfaatkan kemajuan teknologi ini agar terhindar dari menyakiti orang lain yang sering kali berujung pada kasus pidana. Bercermin dari kasus Florence berarti belajar untuk menata lisan, mengintrospeksi diri dan memanfaatkan teknologi dengan cara yang lebih baik dan bijak.   



0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz