Rabu, 24 September 2014

Mentalitas Takut Sedikit


Pada hari jumat kemarin, saya sangat tertarik mendengar khutbah jumat yang disampaikan oleh seorang guru besar. Materi khutbah sangat sederhana, tapi dia sangat lihai mengkorelasikannya dengan konteks kekinian.

Kita mungkin rata-rata menghafal surat alhumazah yang merupakan salah satu surat pendek yang hampir anak-anak kecil muslim mampu menghafalnya. Itulah yang membuat saya sangat menikmati khutbah tersebut, hal sederhana, yang sudah di luar kepala, namun begitu jarang tersentuh perenungan-perenungan. dan khotib tersebut mengajak untuk mencoba mengkaji ayat-ayat Tuhan yang kita hafal dengan berpikir sedikit lebih dalam. Baiklah, akan saya jelaskan isi singkat khotbah tersebut.

Dalam surat yang saya sebutkan di atas, Celakalah bagi pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Mereka mengira bahwa hal tersebut akan mengekalkannya. Tidak sekali-kali demikian, sesungguhnya dia akan dilempar ke neraka.

Dalam uraiannya, khotib mengumpamakan bahwa karakter orang yang disebutkan dalam ayat ini adalah karakter orang-orang barat yang sifatnya protektif dan takut sedikit. Artinya, hal-hal yang menurutnya penting untuk dilakukan di masa depan harus segera dipersiapkan dan memiliki kesediaan yang cukup. Hal tersebut tak jarang dilakukan dan harus didapatkan meskipun melalui kecurangan dan kelicikan.

Mirisnya, mentalitas seperti ini juga banyak dan sering ditiru oleh umat islam, yang sebenarnya telah memiliki peradaban yang lebih baik dari orang-orang barat. Inilah yang kemudian konflik-konflik sosial mengikuti di belakangannya. Contoh kasus akan mentalitas takut sedikit ini adalah dalam kasus BBM, ketika mengetahui BBM langka, maka setiap pemilik kendaraan, melihat tangkinya berkurang sedikit, langsung isi sampai penuh (hal yang tidak dilakukan ketika BBM normal). Inilah mentalitas takut sedikit.

Sesungguhnya itulah yang selalu membuat kita “ramai” tatkala ada beberapa isu yang mencakup kesejahteraan masyarakat bergulir, masyarakat senantiasa cepat terprovokasi. Sekali lagi karena mentalitas takut sedikit.

Padahal Allah sudah menegaskan dalam al-Quran dengan firmannya, walal akhirotu khoirul laka minal ula. “Sesungguhnya kehidupan akherat itu lebih baik dari pada kehidupan dunia.” Fenomena di atas menunjukkan bahwa umat islam mulai lupa dengan ajaran kitab suci mereka. Namun demikian, bukan berarti ayat ini mengajak untuk meninggalkan dunia.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman, Sesungguhnya kami akan mengujimu dengan sesuatu kekurangan, berupa kekurangan harta, jiwa, buah-buahan...

Inilah kepastian Allah bahwa manusia akan mendapatkan ujianya, dalam ayat ini Allah menggunakan dua taukid, lam taukid dan nun taukid. Berarti di sana ada penekanan yang sungguh-sungguh. Maka dengan demikian, kekurangan-kekurangan itu adalah niscaya dalam hidup.

Bagaimana menghilangkan mentalitas takut kekurangan?


Pada akhir khotbahnya, ada dua cara yang ditawarkan khotib tersebut, pertama kompetensi, yang kedua, kompetisi. Artinya seseorang harus memaksimalkan kompetensi yang mereka miliki dan tidak takut bersaing dengan orang lain. Jadi memaksimalkan potensi diri harus dilakukan untuk melawan kekuranga-kekurangan yang merupakan hal yang selalu ada dalam hidup. Kenyataan bahwa hidup itu juga penuh dengan kompetisi, maka seseorang juga harus berani bersaing. Walllahu a’lam.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz