Minggu, 24 Mei 2015

Hermeneutika Psikologi Schleiermacher



Pendahuluan
Salah satu tokoh yang berjasa besar dalam mematangkan Hermeneutika sebagai suatu bidang yang umum adalah Shleiermacher. Filsuf, teolog dan tokoh Filsafat bahasa asal jerman ini dikatakan sebagai bapak hermeneutika modern. Hal tersebut karena dia telah menaikkan level kajian hermeneutika dari paradigma yang ekslusif menuju paradigma yang inklusif dan umum. Kajian Hermeneutika ala Schleiermacher ini kemudian menjadi kajian dalam bidang kehidupan mansia yang tidak hanya berkutat pada urusan teologis, tapi juga pada bidang-bidang kehidupan lainnya seperti sejarah dan sastra.

Dalam orientasi intelektualnya, Schleirmacher lahir dari lingkungan kekristenan yang kental. Hal ini kemudian membawanya menjadi sosok yang memiliki pandangaan-pandangan yang berorientasi teologis. Namun demikian, pandangan Schleiermacher pada masa itu berbeda dengan para pendahulunya, termasuk para pendeta yang seprofesi dengannya. Schleiermacher melompat lebih jauh untuk memberikan satu konsep kegerejaan yang lebih ilmiah dan plural.

Secara epistemologis, pandangan hermeneutika Schleiermacher dikonsepsikan dalam dua model utama yang bersifat timbal balik, yakni pendekatan tafsir gramatikal dan pendekatan tafsir psikologis. Dua pendekatan dalam hermeneutika ini menjadi awal terbentuknya suatu konsep hermenutika yang umum. Maka dari itu, sebagai konsekuensinya, hermenutika sebelumnya menurut Schleiermacher disebtu hermeneutika khusus. Yakni  kajian tafsir yang khusus mengkaji tentang Bibel.

Dalam suatu aktivitas penafsiran, dua konsep di atas menjadi hal yang niscaya, karena menafsirkan berarti mengetahui pesan atau keinginan yang ditanamkan pengarang pada karangannya. Untuk menuju penafsiran yang sempurna itu, Scheleirmacher memberikan langkah-langkah penting dalam melakukannya.

Dalam makalah ini secara khusus akan dikaji tentang konsep dan teknis hermeneutika Schleiermacher. Sebagaimana dikatakan di muka, bahwa ada dua konsep utama dalam penafsiran teks menurut Shleiermacher, yakni pendekatan garamatik dan pendekatan psikologis. Adapun dalam tulisan ini, kajian akan difokuskan pada pendekatan hermeneutika psikologis. Seperti apa dan bagaimana tehnisnya, silahkan membaca tulisan ini secara komprehensif.

Biografi singkat Schleiermacher
Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher dilahirkan pada tahun 1768 di Breslau, Silesia, Prusia, Jerman pada tanggal 21 november 1768[1]. Dia adalah seorang filosof dan teolog Jerman. Schleiermacher dikenal sebagai “Bapak Hermeneutika Modern” sekaligus orang yang berusaha membakukan hermeneutika sebagai metode umum[2]. Dia terlahir dari rahim keluarga yang taat beragama protestan yang ayahnyan pun seorang pendeta.

Schleiermacher menempuh pendidikan di institusi-institusi Morovian Brethren, sebuah sekte militan dalam Agama Kristen, namun sangat tertarik dalam humanisme. Karena dia skeptik terhadap beberapa doktrin Kristiani di lembaga-lembaga tersbeut, dia pada tahun 1787 pindah ke University of Halle yang dipandangnya lebih liberal, namun dia diperguruan tinggi ini tetap menggeluti teologi, disamping filsafat dan filologi klasik sebagai minor field. Dia lulus ujian-ujian dalam bidang teologi Kristen pada tahun 1790, lalu bertugas sebagai pengajar atau tutor swasta ( private tutor) hingga tahun 1793.[3]

Selain itu, dia juga dikenal sebagai bapak Teologi Modern. Hal ini disematkan karena dia memiliki cara pemahaman baru terhadap Bible, yakni memberikan level yang lebih tinggi terhadap hermeneutik[4]. Artinya cara penafsiran bible yang dulu dikenal dengan hermeneutik tidak hanya digunakan untuk penafsiran kitab suci, tapi juga bidang-bidang lain kehidupan seperti Sejarah dan Sastra.

Dalam hal intelektualitas, Schleiermacher tidak bisa dipisahkan dari dua guru berpengaruh pada masa mudanya, yakni  Friedrich Ast dan F. August Wolf. Kedua pemikir Jerman ini memiliki keahlian yang berbeda, dimana Ast adalah seorang ahli Filologi dan Wolf adalah seorang pengkaji Hermeneutika pada waktu itu. Pandangan kedua orang ini pada gilirannya begitu kental mempengaruhi pemikiran Schleiermacher. Misalnya apa yang dikonsepsikan dirinya tentang pembagian model penafsiran yakni penafsiran dengan melihat aspek gramatik dan penafsiran yang melihat aspek psikologis pengarang[5].

Dari latar historis di atas, dalam proses intelektualnya, Schleirmacher mengalami dua pase pemikiran, yang pertama pase pengkajian hermeneutika yang berorientasi pada bahasa yang selanjutnya dikenal dengan istilah hermeneutika “gramatik.” Dalam pemikiran ini, dia mengatakan bahwa pengkajian teks atau proses interpretasi itu berkaitan dengan proses pemahaman linguistik secara menyeluruh. Pemahaman ini menjadi asas atau dasar pemahaman tafsiran yang sesuai teks.

Pada fase selanjutnya Shleirmacher mengubah orientasi pemikiran hermeneutikanya dari penafsiran yang bersifat gramatik menuju penafsiran yang bersifat psikologis. Namun demikian dua model penafsiran ini sejatinya merupakan dua konsep yang saling berkelindan dalam satu pemahaman, sehingga memahami keduanya merupakan mekanisme penting dalam proses melakukan interpretasi. Paradigma ini dikemudian hari akan dikenal dengan lingkaran heremeniutis. 

Selama kurun waktu antara 1794 dan 1796 Schleiermacher beraktivitas sebagai pastor di Landsberg dan pada tahun 1796 dia pindah ke Berlin untuk bekerja di sebuah rumah sakit. Di kota inilah dia baru bertemu dengan beberapa pemikir yang beraliran romantisisme, seperti Friedrich dan August Wilhelm Schlegel. Bersama mereka dia terlibat dalam gerakan romantisisme dan menerbitkan jurnal Athenaeun, meski hanya terbit sebentar, yakni tahun 1798-1800. Pada tahun 1799 dia menerbitkan karya yang sangat penting dan radikal dalam bidang filsafat agama yakni On Religion : Speeches to its Cultured Despires. Aliran romantisisme (atau aliran obyektivis) inilah yang kemudian mempengaruhi pemikiran-pemikiran hermeneutiknya.

Pada tahun 1810 dia diangkat sebagai professor teologi di University of Berlin dan pada tahun 1811 dia menjadi anggota bagi Berlin Academy of Science. Sejak saat itulah dia banyak memberikan perkuliahan dalam bidang teologi dan filsafat serta menerbitkan lebih banyak lagi karya-karya berharga bagi pengembangan pemikiran dalam bidang filsafat bahasa, teologi dan hermeneutik. Dia meninggal dunia pada taun 1834[6].

Dalam hal konsen akademik, secara konsisten Schleiermacher fokus pada Hermeneutika, Dialektika dan Filsafat Bahasa[7]. Fokus akademik inilah yang kemudian banyak berpengaruh pada konsep pemahaman Schleiermacher tentang Hermeneutika.

Konsep hermeneutika Schleiermacher
Proyek besar Schleiermacher pada awal kajiannya adalah menjadikan hermeneutika sebagai bidang keilmuan yang matang. Model hermeneutika ini selanjutnya akan dikenal dengan Hermeneutika Umum. Menurut Schleiermacher, Hermeneutika adalah seni memahami dimana di dalamnya terdapat prosedur-prosedur yang harus dilakukan untuk mendapatkan penafsiran yang sesuai dengan yang diinginkan[8]. Baginya, menafsirkan itu adalah menyajikan kembali isi pikiran pengarang dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik dari yang digagaskan oleh pengarang.

Konsep hermeneutika Schleiermacher sejatinya adalah respon terhadap fenomena hermeneutika zaman sebelumnya yang masih bersifat otodidak dan tidak sistematis. Model itu dia anggap sebagai model hermeneutika khusus, yaitu model pemahaman yang terpaku pada bidang-bidang tertentu, maka dibutuhkanlah satu konsep hermeneutika yang bisa mengkaji teks secara umum.

Secara epistemologis, konsep hermeneutika Schleirmacher merupakan konsep yang mengalternasi model pemikiran terdahulu dengan pemahaman yang lebih general di masa depan. Sebagaimana ditulis Grondin, Schleiermacher menjadi tokoh yang mentransisi pemikiran metafisis Kant menuju Hermeneutika[9]. Tentunya kenyataan ini membuat Shleiermacher menjadi tokoh penting proses berdirinya hermeneutika sebagai bidang yang utuh dan berdiri matang.

Awalnya gejolak intelekutal Schleiermacher ada pada konsep pemahaman. Baginya apa yang dilakukan manusia dalam kesehariannya adalah proses pemahaman (interpretasi). Dalam hal memahami, Schleiermacher memandang ada pemahaman gramatik dan psikologis. Artinya seseorang yang melakukan percakapan, tentulah harus memahami tanda-tanda gramatik yang ada dalam tuturan dan pengalaman pendengar itu tentang substansi yang dituturkan. Di samping itu, seseorang harus bisa menyentuh bagian psikologis pengarang untuk menemukan arah pemikiran maupun konsep yang ingin dikemukakan oleh seorang pengarang.

Secara substantif pemahaman gramatikal dan psikologis ini merupakan dua model yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Untuk membentuk suatu pemahaman yang bagus dan sesuai dengan pengarang maka penting untuk mengkomparasikan aspek gramatik dan aspek psikologis itu. Lebih jelas mari kita simak keterangan Michael N. Forester dalam artikelnya, Hermeneutics.
“Understanding occurs as a matter of course," in fact "misunderstanding occurs as a matter of course, and so understanding must be willed and sought at every point"; that interpretation needs to complement a linguistic (or "grammatical") focus with a psychological (or "technical") focus; that while a "comparative" (i.e. plain inductive) method should predominate on the linguistic side, a "divinatory" (i.e. hypothetical) method should predominate on the psychological side; and that an interpreter sought to understand an author better than the author understood himself.[10]
Tentang hubungan penafsiran gramatik dan psikologis, Schleiermacher mencetuskan konsep lingkaran hermeneutis. Lingkaran Hermeneutis adalah salah satu konsep yang sering dirujukkan kepada Scheleiermacher. Berangkat dari konsepnya tentang pemahaman, ia menjelaskan bahwa pemahaman pada dasarnya adalah sesuatu yang bekerja secara referensial. Seseorang hanya bisa memahami sebuah teks saat ia dibandingkan dengan sesuatu yang lain yang sudah diketahui terlebih dahulu. Hal ini biasanya dilakukan dengan membandingkan antara bagian-bagian dan keseluruhan secara resiprokal (timbal-balik).[11]

Dalam sebuah teks misalnya, bagian-bagian kata tertentu hanya bisa dipahami dalam kaitannya dengan keseluruhan teks atau kalimat. Begitu juga sebaliknya, keseluruhan teks atau kalimat hanya bisa dipahami dalam kaitannya dengan bagian-bagian kata yang membangun susunan teks atau kalimat tersebut (termasuk suasana psikologis pengarang). Interaksi dialektis antara keseluruhan dan bagian dalam mencari makna ini tampak sebagai sesuatu yang terus berputar satu dengan yang lain membentuk sebuah lingkaran. Inilah yang kemudian dikenal sebagai lingkaran hermeneutis.

Mengingat lingkaran hermeneutis juga disusun dari prinsip gramatikal dan psikologis, maka ia juga mengasumsikan adanya elemen intuitif. Selain itu, dalam sebuah wacana, lingkaran hermenetis juga tidak saja mengakomodir aspek linguistik (bahasa), melainkan juga aspek materi yang dibicarakan (subjek).

Pada prinsipnya, Schleiermacher memiliki pandangan pandangan yang bersipat fundamental sebagai fondasi berdirinya hermeneutika secara bidang yang utuh dan umum. Menurut Forester, ada empat sumbangan penting Schleiermacher dalam bidang Hermeneutika[12]:
1.      Memberikan ide penting tentang konsep penafsiran. Yaitu berupa pentingnya pemahaman pendengar atau pembaca teks terhadap suatu objek. Konsep ini yang pada gilirannya banyak menginspirasi Ernesti dan Herder.
2.      Menjadikan aspek gramatik sebagai bagian penting dalam proses interpretasi.
3.      Membangun konsep hermeneutika umum.
 Sebagaimana yang dipaparkan di muka, masa sebelum Schleiermacher hermeneutika yang dikaji dan digunakan adalah hermeneutika khusus yang bersifat ekslusif, maka datanglah Schleiermacher dengan konsep hermeneutika umum yang memiliki visi penggunaan hermeneutika dalam seluruh bidang kehidupan manusia. Artinya tidak hanya terpaku pada persoalaan teologis (penafsiran kitab suci) tapi juga dalam hal kajian sejarah dan sastra.
4.      Memberikan inspirasi bagi Heideger untuk mengembangkan Hermeneutika lebih matang lagi.

Hermeneutika Psikologis Schleiermacher
Schleiermacher berpendapat bahwa seseorang tidak bisa memahami sebuah teks hanya dengan semata-mata memperhatikan aspek bahasa saja, melainkan juga dengan memperhatikan aspek kejiwaan pengarangnya. Seorang penafsir teks harus memahami seluk-beluk pengarangnya. Pandangan yang memberikan perhatian pada aspek psikologis ini kemungkinan dipengaruhi oleh keluasan pengetahuannya tentang filsafat ketuhanan Spinoza.

Spinoza sendiri adalah seorang filsuf jerman yang banyak berbicara tentang Tuhan[13]. Orientasi filsafat seperti ini dipengaruhi oleh situasi pada saat itu, yakni ketika metafisika (jiwa, ruh dan Tuhan) begitu sulit diterangkan oleh akal. Keadaan ini berlangsung pada awal masa pencerahan Eropa. Para pemikir yang banyak mengkaji tentang metafisik ini antara lain Immanuel Kant dan Spinoza. Schleiermacher sendiri banyak berkomentar tentang pandangan-pandangan Spinoza sebagaimana yang disinggung pada pembahasan biografinya.

Selain Spinoza, Filsuf Jerman lainnya yang mempengaruhi pemikiran Schleiermacher secara tidak langsung adalah Immanuel Kant[14]. Pandangan Kant memang cendrung metafisis karena memang basis orientasi pemikiran Kant adalah Nilai atau etika. Corak pemikirannya pun khas kekristenan. Salah satu pandangannya yang pada saat itu bisa mengalternasi kegelisahan intelektual pada masanya adalah pernyataan bahwa akal hanya bisa menyentuh hal-hal metafisis melalui silogisme saja (misalnya hukum kausalitas) hal ini selanjutnya disebut realitas subjektif, yakni pembuktian dengan premis-premis tertentu, dan tidak akan pernah bisa menyentuh lebih jauh dari itu (realitas objektif).[15] pandangan ini pada selanjutnya memicu timbulnya banyak kritik oleh pemikir-pemikir setelahnya, Kant dipandang sebagai orang yang membatasi hak intelektual dan kebebasan akal manusia.

Selain pemikiran tentang realitas di atas Kant juga berbicara sumber pengetahuan, bagi Kant pengetahuan itu tidak hanya bersumber dari satu pengalaman saja tapi gabungan dari rasionalisme dan idealisme. Paradigma yang diusung Kant dalam hal pengetahuan adalah ia tidak memulai pengetahuan dari objek yang ada, tetapi dari sisi pengamat objek terlebih dahulu[16].

Berdasarkan latar historis intelektual pada masa itulah, kita bisa sedikit menganalisa pandangan interpretasi psikologis ala Schleiermacher. Pada pemikiran Kant tentang pengetahuan di atas, nampak sekali ada peluang psikologi pengamat disana sebagai peneliti sauatu objek. Dengan demikian, konsep Schleiermacher tentang hermenutika psikologis menurut penulis adalah dipengaruhi oleh epistemologi filsafat yang ia adopsi dan gunakan dari para pendahulunya.

Terkait dengan pemahaman teks secara psikologis, Ada dua tawaran  metode dari Schleiermacher: divinatory method dan comparative method. Metode divinatori adalah metode dimana seseorang mentransformasikan dirinya atau memasukkan dirinya ke dalam (kejiwaan) orang lain dan mencoba memahami orang itu secara langsung. Teknis dalam analisis ini adalah mengetahui situasi psikologis pengarang untuk mendapatkan pandangan kongkrit tentang objek yang terkait.

Hal yang perlu digarisbawahi disini adalah, pendekatan psikologis bukan berarti melakukan psikoanalisis terhadap pengarang, tapi mengetahui dengan utuh situasi psikologi pengarang untuk mendapatkan pemahaman yang utuh tentang teks. Artinya psikologi pengarang dalam kajian hermenutika psikologis bukan semata mengkaji situasi batin pengarang sebagai objek tunggal, tapi hanya sebagai sarana untuk pemahaman akan teks secara sempurna[17].

Adapun Metode komparatif adalah metode memahami dimana sesorang penafsir berusaha memahami seseorang dengan cara membandingkannya dengan orang-oarng lain, dengan asumsi bahwa mereka sama-sama memiliki sesuatu yang universal. Dengan pandangan ini Schleiermacher mangajukan suatu konsep baru dimana kajian terhadap suatu teks disertakan dengan mengkaji subjek atau author suatu karya.

Schleiermacher menegaskan bahwa kedua metode tersebut tidak bisa dipisahkan. Hal ini didasarkan pada hal berikut : “divination [memasuki psikologi orang secara langsung] bisa mencapai kepastiaannya melalui perbandingan konfirmatif, karena tanpa hal itu, ia selalu tidak bisa dipercaya.

Pada akhirnya pandangan hermeneutika psikologis Schleiermarcher adalah dalam rangka memahami suatu teks secara sempurna, yakni dengan memadukan (mengkomparasikan) aspek-aspek gramatikal dan situasi batin pengarang sehingga apa yang disebut sebagai aktifitas penafsiran benar-benar menghasilkan pandangan yang objektif dan sesuai dengan keinginan pembuat teks. Di sini kembali terlihat bahwa inti dari hermeneutika Schleiermacher adalah seni menafsirkan (art of interpretation).

Dengan demikian, secara umum, konsep psikologis Schleiermacher tidak otonom atau berdiri sendiri dari konsep gramatikalnya. Artinya kedua konsep itu dalam suatu aktifitas penafsiran menjadi hal yang niscaya untuk menghasilkan penafsiran yang objektif dan sempurna.  

Daftar pustaka

Anonym. Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher –Biography dalam situs http://www.egs.edu/library/friedrich-schleiermacher/biography/ akses tanggal 20 April 2015
Forester, Michael N.. Hermeneutics. (file pdf) diunduh dari situs: philosophy.uchicago.edu/faculty/files/. Akses tanggal 26 April 2015
Grondin, Jean. Sejarah Hermeneutik; dari Plato Sampai Gadamer. Terj. 2010. Yogyakarta: Arruz Media
___________. Sources of Hermeneutics. 1995. New York: State University of New York.
Gjesdal, Kristin. Hermeneutics. (Oxford bibliographies online) diunduh dari situs: http://www.oxfordbibliographiesonline.com/view/document/. Akses tanggal 25 April 2015
Murtaningsih, Wahyu. Para Filsuf dari Plato sampai Ibnu Bajjah. 2012. Yogyakarta: IRCiSoD
Parmer, Richard E. Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi. Terj. 2005. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Rutt, Jessica. On Hermeneutic (file pdf). 2006. Tanpa kota dan tahun. Jurnal Logos dalam situs nb.vse.cz/kfil/elogos/student/rutt.pdf. akses tanggal 21 April 2015





[2] Jessica Rutt. On Hermeneutic, dalam jurnal Logos (file pdf) Edisi 2006. hlm, 2 dalam situs nb.vse.cz/kfil/elogos/student/rutt.pdf. akses tanggal 21 April 2015
[3] Diterjemahkan dari artikel tentang biografinya yang berjudul, Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher – Biography dalam situs http://www.egs.edu/library/friedrich-schleiermacher/biography/ akses tanggal 20 April 2015
[4] Ibid, hlm. 2
[5] Richard E. Parmer. Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi. Terj. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005) hlm. 85-93
[6] Op.cit
[7] Kristin Gjesdal. Hermeneutics. (Oxford bibliographies online) diunduh dari situs: http://www.oxfordbibliographiesonline.com/view/document/. Akses tanggal 25 April 2015
[8] Richard E. Palmer. Ibid hal 95-97
[9] Jean Grondin. Sources of Hermeneutics. (New York: State University of New York, 1995) hlm. 4-5
[10] Michael N. Forester. Hermeneutics. (file pdf) hlm. 18 diunduh dari situs: philosophy.uchicago.edu/faculty/files/. Akses tanggal 26 April 2015
[11] Richard E. Palmer. Hermeneutika, hlm. 59
[12] Michael N. Forester. Op.cit, hlm. 20-30
[13] Wahyu Murtaningsih. Para Filsuf dari Plato sampai Ibnu Bajjah. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2012) hlm. 100
[14] Jean Grondin. Sejarah Hermeneutik; dari Plato Sampai Gadamer. Terj. (Yogyakarta: Arruz Media, 2010) hlm. 18
[15] Ibid. Hlm. 19
[16] Wahyu Murtaningsih. Op.cit. hlm, 123
[17] Richard E. Palmer. Hermeneutika. Hlm, 101

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz