Rabu, 27 Mei 2015

Proses Ilmiah Penciptaan Tanda Baca dan Penyusunan Kaidah Nahwu dan Sharaf



Pendahuluan
Dalam perkembangan bahasa Arab, proses pemberian tanda baca dan penyusunan gramatika Arab menjadi tahapan perkembangan bahasa Arab yang penting untuk dikaji. Dalam proses tersebut, ada motif keagamaan, ada pula motif sosial budaya. Salah satu hal yang paling mempengaruhi proses pemberian tanda baca dan penyusunan gramatika Arab pada waktu itu adalah adanya lahn, yakni kekeliruan berbahasa orang-orang Arab pada waktu itu disebabkan adanya intraksi kebahasaan antara orang Arab dan non Arab.

Mengenai siapa peletak dasar pemberian tanda baca dan penyusunan kaidah berbahasa, memang sejarah mencatatnya berbeda-beda, sebagaian mengatakan Abu Aswad ad-Dualy, sebagian lagi mengatakan imam Ali bin Abi Thalib. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, proses kodifikasi kaidah bahasa Arab merupakan proses penting yang melibatkan banyak kalangan.

Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang proses ilmiah pemberian tanda baca dan penyusunan tata bahasa Arab. Proses ilmiah disini dimaksudkan pada tahapan pengumpulan bahasa melalui pendekatan-pendekatan (penelitian) untuk mendapatkan data-data yang akan terhimpun membentuk satu pernyataan.

Seperti apa proses tersebut dalam kronologi sejarah bahasa Arab? Itulah yang menjadi pembahasan pokok dalam tulisan ini. mengingat banyak sekali persi tentang siapa peletak dasar dan beragam kisah abu Aswad khusunya tentang alasan kenapa disusunnya kaidah bahasa Arab, maka penulisan tulisan ini menggunakan pendekatan kritis guna mendapatkan analisis dan kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua, dan semoga menjadi bahan tambahan dalam kajian dinamika bahasa Arab, maka dari itu kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan tulisan pada waktu yang lain.


A.    Penciptaan tanda baca
Secara kronologis, penciptaan tanda baca dipengaruhi oleh motif ideologis, yakni dalam rangka memudahkan ummat Islam untuk membaca Al-Quran. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari perkembangan agama Islam pada waktu itu. Artinya proses ekspansi ummat Islam dari jazirah Arab ke negeri-negeri di sekelilingnya membuat bahasa non Arab banyak berasimilasi dengan bahasa Arab. Sebagai kitab suci ummat Islam, maka al-Quran dibaca oleh seluruh umat Islam baik dari golongan Arab maupun lainnya. Kenyataan ini kemudian melahirkan persoalan baru, yakni beredarnya bacaan-bacaan al-Quran yang berseberangan dengan kaidah dalam penuturan bahasa Arab yang dibacakan oleh orang-orang non Arab karena lahjat yang berbeda (lahn).

Jika berbicara tentang penciptaan tanda baca dan penyusunan kaidah bahasa Arab, maka bisa dikatakan bahwa penyusunan kaidah bahasa Arab lebih dahulu muncul dari pada penciptaan tanda baca. Namun demikian, hal yang mempengaruhi proses penciptaan tanda baca mupun penyusunan gramatika Arab sama-sama dipengaruhi oleh faktor dinamika ummat Islam secara kuantitas. 

Di ceritakan bahwa yang pertama kali mendapatkan ide tanda baca terhadap Al-Qur’an adalah Ziyad bin Abihi salah seorang gubernur yang diangkat oleh Muawiyah bin Abi Sufiyan untuk wilayah Basrah (45-53 H). Kisah munculnya ide itu diawali ketika Muawiyah menulis surat kepadanya agar mengutus putranya Ubaidillah, untuk menghadapnya, Muawiyah terkejut bahwa anak muda itu banyak melakukan kesalahan dalam bahasa pembicaraannya, Muawiyah mengirim surat teguran kepada Ziyad. Lalu Ziyad mengirim surat kepada Abu Aswad Adwali dengan pernyataan bahwa sesungguhnya orang-orang non Arab itu semakin banyak telah merusak bahasa orang-orang Arab, maka cobalah anda melakukan suatu hal untuk memperbaiki bahasa orang itu dan membuat meraka membaca Al-Qur’an dengan benar, tapi kemudian Abu Aswad menolak permintaan Ziyad.[1]

Ziyad melakukan sesuatu untuk memenuhi kehendaknya yaitu dengan menyuruh seseorag untuk menunggu dijalan yang sering dilewati oleh Abu Aswad Aduali ini dengan pesannya, ketika Abu Aswad lewat bacalah satu ayat Al-Quran, orang inipun membaca firman Allah Q.S At-Taubah ayat 3. yang berbunyi: “Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuuluhu” (sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin). pada lafadz “Rasuluhu” di baca Rafa'/ Dommah Namun orang ajam tersebut membacanya dengan “Innallaaha bariiun min al-musyrikiina wa rasuulihi” (sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musrik dan RasulNya).[2]

Pada lafadz “Rasuluhu” di baca rasuulihi (jer/ kasroh) Mendengar bacaan tersebut Abu Aswad terkejut, lalu mengucap:”Maha besar Allah: bagaimana mungkin Dia berlepas diri dari RasulNya?! Setelah itu ia langsung menemui Ziyad untuk menerima permohonan Ziyad. Abu aswad menunjuk seorang dari suku al-Qais untuk membantunya dari 30 orang yang di Ajukan Ziyad.

Abu Aswad kemudian memerintahkan juru tulis itu mengambil mushaf dan Zat pewarna yang berbeda dengan yang digunakan untuk berpesan kepada stafnya itu:” jika kau lihat bibirku terbuka waktu menyebut huruf bersuara A (fatah) letakanlah satu titik diatasnya, dan jika kesuan bibirku agak terkatup (bersuara i) letakkanlah satu titik di bawahnya, jika bibirku mencuat kemuka (bersuara U) maka letakkanlah satu titik ditengah huruf dan jika bibirku bersuara (Ghunnah) letakkanlah dua titik diatasnya”[3]. Dalam versi lain Abul Aswad pada masa Khalifah Muawiyah memberi tanda vokal (harakat) dengan tinta yang berlainan. Titik di atas untuk fat-hah, titik di bawah untuk kasrah, titik di sebelah kiri atas untuk dlammah, dan dua titik untuk tanwin. Sementara itu Abu Aswad membaca Al-Qur’an dengan perlahan dan stafnya pun sibuk bekerja sesuai dengan perintahnya.

Apabila mereka mendapatkan salah satu huruf halaq, mereka melatakkan salah satu titik lebih tinggi dari pada yang lain, sebagai tanda suara (nun) jelas, jika tidak jelas mereka meletakkan disamping, sebagai tanda apabila suara (nun) tidak terdengar (tersembunyi). Dan setiap kali usai satu halaman, Abu Aswadpun memeriksanya kembali sebelum melanjutkan kehalaman berikutnya. Oleh karena itu, Abul Aswad Ad-Duali mejadi sosok yang berkiprah sangat penting bagi kaum Muslimin. Dialah yang menemukan kaidah tata bahasa Arab (Nahwu), salah satunya kaidah pemberian harakat.

Harkat yang diciptakan oleh Abu al-Aswad ini lalu disempurnakan Imam Kholil bin Ahmad al-Farakhidi pada masa dinasti Abbasiyah, hingga menjadi bentuk harkat seperti yang ada sekarang. Adapun titik yang terdapat pada huruf ba', ta', tsa', jim, ha', kha', dzal, za', dan lainnya, itu terjadi pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan Saat itu beliau memerintahkan gubernurnya di Irak yang bernama Hajjaj bin Yusuf. Hajjaj bin Yusuf lalu menyuruh Nashr bin Ashim dan Yahya bin Ya'mur untuk merealisasikan keinginan khalifah Abdul Malik bin Marwan tersebut.

Dalam penulisan titik huruf tersebut, Nashr bin Ashim menggunakan tinta yang warnanya sama dengan tinta yang digunakan untuk menulis mushaf, agar tidak serupa dengan titik tanda harkat yang digunakan oleh Abu al-Aswad al-Dualy Sejak saat itulah dalam mushaf Alqur'an sudah ada titik huruf dan titik harkat. Titik yang diciptakan oleh Abu al-Aswad disebut Titik I'rab, sedangkan titik yang diletakkan oleh Nashr bin Ashim disebut Titik Huruf.

Pemberian titik dan baris pada mushaf Alquran ini dilakukan dalam tiga fase. Pertama, pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Saat itu, Muawiyah menugaskan Abul Aswad Ad-dualy untuk meletakkan tanda baca (i’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca[4].

Fase kedua, pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H), khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, Al Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya. Misalnya, huruf baa’ dengan satu titik di bawah, huruf ta dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas. Pada masa itu, Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin ‘Ashim dan Hay bin Ya’mar.

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ini, wilayah kekuasaan Islam telah semakin luas hingga sampai ke Eropa. Karena kekhawatiran adanya bacaan Alquran bagi umat Islam yang bukan berbahasa Arab, diperintahkanlah untuk menuliskan Alquran dengan tambahan tanda baca tersebut. Tujuannya agar adanya keseragaman bacaan Alquran baik bagi umat Islam yang keturunan Arab ataupun non-Arab (‘Ajami).

Baru kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca Alquran. Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy, seorang ensiklopedi bahasa Arab terkemuka kala itu. Menurut sebuah riwayat, Khalil bin Ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan ismam pada kalimat-kalimat yang ada[5].

Kemudian, pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Alquran, khususnya bagi orang selain Arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam, rum, dan mad.

Sebagaimana mereka juga membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat, tanda-tanda wakaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri atas nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah ‘ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Alquran adalah tajzi’, yaitu tanda pemisah antara satu Juz dan yang lainnya, berupa kata ‘juz’ dan diikuti dengan penomorannya dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz, dan juz itu sendiri.

Dengan adanya tanda-tanda tersebut, kini umat Islam di seluruh dunia, apa pun ras dan warna kulit serta bahasa yang dianutnya, mereka mudah membaca Alquran. Ini semua berkat peran tokoh-tokoh di atas dalam membawa umat menjadi lebih baik, terutama dalam membaca Alquran.

B.     Penyusunan tata bahasa (Nahwu dan Shorf)
Terjadi perbedaan pendapat tentang siapakah yang meletakkan asas kaidah ilmu nahwu pertama kali. Sebagaian ulama’ berpendapat bahwa peletak dasar ilmu nahwu adalah Abu Aswad Adduali. Sebagaian mereka berpendapat adalah Ali Bin Abi Thalib. Shohib Abu Janah dalam kitabnya mengungkapkan prihal kemunculan pertama penyusunan kaidah bahasa Arab.

Diceritakan ketika Abu Aswad berada di Basrah, seorang bernama said datang menemui Abu Aswad. Pada saat itu, Abu Aswad bertanya kepadanya, “يا سعيد ألاتركب؟  ما لك" kemudian said menjawab, “فرسي ضالع” maka tertawalah orang yang hadir pada waktu itu, karena sebenarnya said ingin berkata: “ظالع” kemudian abu Aswad berkata: “mereka adalah para budak yang mencintai agama islam dan memeluknya, dan kemudian menjadi saudara kita, maka seyogyanya kita mengajarkannya kalam yang benar.” Maka setelah itu dibuatlah kaidah untuk menentukan, fiil, Fail, maful[6].

Cerita yang lain menunjukkan bahwa konon Abu Aswad mengemukakan kegelisahannya kepada amir pada waktu itu, yakni Ziyad, dia mengatakan bahwa kaidah bahasa arab telah bercampur baur dengan bahasa ajam, kemudian dia menawarkan kepada Ziyad untuk dia menyusun sebuah kaidah yang bisa memperbaiki bahasa mereka, tapi Ziyad menolaknya. Beberapa hari setelahnya, Ziyad didatangi oleh rakyatnya kemudian menyampaikan sebuah kabar, “أصلح الله الأمير، توفي أبانا وترك بنون” kemudian Ziyad bertanya kembali penuh heran “apa, ayah mati dan anak-anknya meninggalkannya?”[7] pada kalimat tersebut, seorang itu ingin menyampaikan bahwa seorang ayah telah meninggal dunia dan meninggalkan anak-anaknya, tapi karena kesalahan harokat, maknanya menjadi keliru.

Setelah peristiwa tersebut terjadi, Ziyad kemudian meminta untuk dipanggilkan Abu Aswad Aduualy. Ketika Abu Aswad datang ke tempatnya, dia berkata: “Lakukanlah apa yang ingin engkau lakukan kepada manusia (membuat kaidah bahasa) apa yang sebelumnya aku larang.” Maka sejak saat itu, Abu Aswad kemudian menyusun kaidah nahwu.

Dalam kitab kawakib addurriyah disebutkan kisah yang berbeda lagi, diceritakan disana bahwa suatu malam Abu Aswad duduk-duduk bersama anaknya di luar rumah kemudian memandang langit yang luas. Berkatalah sang anak, “maa ahasnu as-sama’ ” kemudian Abu Aswad menjawab, “Nujumuha.” Anaknya balik berkata: “aku ingin mengungkapkan ketaajubanku pada keindahan langit.” maka Abu Aswad berakata: “kalau begitu, katakanlah, ma ahsanassama’.”[8] Sejak saat itu Abu Aswad kemudian menyusun tata bahasa Arab.  

Beberapa golongan berpendapat bahwa yang pertama kali meletakkan dasar ilmu nahwu adalah imam Ali bin Abi Thalib. Hal tersebut beliau lakukan karena melihat terjadinya banyak sekali kekeliruan berbahasa pada waktu itu, yang kemudian memunculkan kekhawatiran pada kesalahan pembacaan al-Quran. Imam Ali kemudian berdiskusi dengan Abu Aswad tentang bahasa Arab, maka Ali menulis sebuah suarat kepada Abu Aswad yang berisi tentang pemaknaan kalam, bahwa kalam itu adalah isim, fiil, dan huruf.

Dari pernyataan inilah kemudian berkembang tata bahasa ilmu nahwu yang sejarah mencatat Abu Aswad sebagai tokoh utama dalam penyusunan kaidah ilmu nahwu. Namun jumhur ulama’ berpendapat bahwa tata bahasa Arab disusun pertama kali oleh Abu Aswad melalui usulan imam Ali bin Abi Thalib.

Jika kita membaca lebih kritis, maka kita akan menemukan satu persoalan lain, yakni apakah nahwu yang dicetuskan oleh Abu Aswad merupakan ilmu Nahwu yang belakangan dikenal oleh generasi selanjutnya? Dalam hal ini, Sohib Abu Janah mengungkapkan analisisnya yang kritis dalam kitabnya, beliau mengatakan bahwa Nahwu yang disebutkan oleh imam Ali pada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa peletak dasar ilmu nahwu adalah dirinya, bukanlah Nahwu sebagaimana yang dikenal pada generasi sekarang ini.

Menurut Abu Janah, proses lahirnya nahwu itu bertahap, adapun pemaknaan Nahwu secara terminologis baru terjadi pada masa Ibnu Siroj yaitu ketika pemaknaan isim sudah sangat kongkrit dan defintif secara standar ilmiah[9].

Jika berbicra proses ilmiah, maka proses penciptaan tanda baca maupun penyusunan tata bahasa Arab mengalami proses dinamika yang sangat panjang dan bisa dikatakan ilmiah. Misalnya saja apa yang dilakukan Abu Aswad ketika menentukan harokat fathah, dommah, dan sebagainya, itu menggunakan kesamaan tuturan, artinya disana ada analisis komfirmatif dalam kajian semiotika bahasa. Yakni proses pemberian nama atau kode sesuatu itu, didasarkan pada kesesuaian bunyi tuturan.

Demikian pula dalam proses penyusunan tata bahasa Arab, disana para peletak dasar ilmu nahwu misalnya melakukan penelitian ilmiah terlebih dahulu, konon diceritakan bahwa ketika Ali berkunjung ke Bashrah pada saat perang siffin, dia tidak bermaksud untuk memerangi Muawiyah, juga tidak untuk memerangi kaum Khawarij, tapi hanya untuk melakukan survey kebahasaan untuk mengetahui realitas berbahasa disana guna menjadi acuan dalam penyusunan tata bahasa Arab pada waktu itu.[10]

Meskipun aktivitas penyusunan tata bahasa Arab pada masa Ali maupun Abu Aswad addualy masih bersifat defintif (meminjam agumentasi Abu junnah), namun usaha yang dilakukan keduanya sangat berpengaruh bagi penelitian bahasa pada masa selanjutnya. Misalnya saja apa yang dilakukan oleh murid-murid Abu Aswad Addualy seperti: Nashr bin Ashim, Abdurrahman bin Harmaz, Yahya bin Ya’mar dan lainnya, yang selanjutnya ketiga murid Abu Aswad ini diklaim juga sebagai pencetus ilmu Nahwu juga.

Inilah yang penulis sebut sebagai proses dinamisasi, bahwa penyusunan tata bahasa Arab memiliki tingkatakan perkembangan yang cukup signifikan. Dalam bukunya, al-Kitab, Sibawaih menunjukkan satu bentuk kaidah Nahwu yang cukup mendetail sehingga buku tersebut diklaim sebagai buku Nahwu yang paling lengkap dan berpengaruh terhadap generasi setelahnya, maka tidak heran jika buku tersebut disebut sebagai “Qurannya Nahwu.”

Namun demikian, menurut Abu Janah, pada masa Sibawaih pun pemaknaan ilmu Nahwu masih belum mapan, karena dalam buku tersebut, Sibawaih memberikan pernyataan bahwa isim itu adalah seperti lafaz: Ahmad, Zaid, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa Sibawaih pun, kaidah Nahwu masih belum berdiri secara keilmuan yang matang. Pemaknaan konten Nahwu memiliki bentuknya yang relevan dan terminologis yakni pada masa Ibnu Siraj.

Mengenai penyusunan ilmu Sharaf, penulis tidak menemukan banyak data tentang riwayat kodifikasi penyusunan ilmu tersebut, namun dalam kitab Hallul Ma’qud yang dikarang oleh Syaikh Muhammad Alisyh mengatakan bahwa peletak dasar ilmu Sharaf adalah Mu’adz bin Muslim al-Harra’.[11] Namun demikian ada juga ulama’ yang berpendapat bahwa peletak dasar ilmu Sharaf adalah imam Ali bin Abi Thalib.

Jika kita membaca sejarah kodifikasi tata bahasa Arab, kita bisa mengikuti pendapat yang kedua, bahwa peletak dasar ilmu Sharaf adalah Ali bin Abi Thalib karena sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Ali memiliki pengetahuan yang luar biasa luas dan sudah diakui oleh Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, Ali merupakan salah satu tokoh peletak dasar ilmu Nahwu, maka jika kita bicara logika, sebagaimana dikatakan bahwa nahwu adalah bapak ilmu dan sharf adalah ibu ilmu, maka tentulah saat ilmu Nahwu muncul, secara bersamaan ilmu sharaf juga demikian. Allahu A’lam.






Referensi
Alisyh, Muhammad. Hallul Ma’qud min Nazhmil Maqshud fi Shorf. 1315. Makkah: al-Matba’ah al-Miriah al-Kainah
Dhoyf, Syaoqy. Madaris an-Nahwiyyah. 1978. Qairo: Darul Ma’arif
Janah, Sohib Abu. Dirasat fi Nazhoriyati Nahwil ‘Aroby wa Tathbiqotiha. 1998. Oman: Darul Fikr
Muhammad bin Ahmad bin Abdul Bari. Kawakib Addurriyah. Mutammimah Limatnil Ajrumiah. Tanpa Tahun. Jeddah: al-Haromain
Musthafa al-Gholayaini. Jami’uddurus al-Lughotil Arobiyah. 2008. Birut: Darul Bayan.
www.republika.com Akses 31 Maret 2015
http://ow.ly/knicz.


[1] http://ow.ly/knicz. Akses tanggal 31 Maret 2015
[2] Syaoqy Dhoyf. Madaris an-Nahwiyyah (1978, Qairo: Darul Ma’arif). Hal. 15
[3] Ibid. Hal 16
[4] www.republika.com akses 31 maret 2015
[5] Syaoqy Doyf. Madaris an-Nahwiyah. H. 33
[6] Sohib Abu Janah. Dirasat fi Nazhoriyati Nahwil ‘Aroby wa Tahbiqotiha  (1998, Oman: Darul Fikr) h. 7
[7] Ibid. Hal, 8
[8] Muhammad bin Ahmad bin Abdul Bari. Kawakib ad-Durriyah Syarh Mutammimah Al-jurumiah. (tanpa tahun, Jeddah: al-Haromain) hal. 3. Lihat juga pengantar kitab Jamiu ad-Durus al-Lughotil al-Arobiah, karangan al-Gholayaini.
[9] Abu Janah, ibid hal.19
[10] Syaoqy Doyf. Madaris an-Nahwiyah. Hal. 14
[11] Muhammad Alisyh. Hallul Ma’qud min Nazhmil Maqshud fi Shorf (1315, Makkah: al-Matb’ah al-Miriah al-Kainah) hal. 2

1 komentar:

Viagra mengatakan...

terima kasih gan atas infony...
vimax asli
viagra
viagra asli
klg
obat kuat
vimax

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz