Selasa, 28 Juni 2016

Puasa Untuk Membangun Mentalitas Kebercukupan

Secara bahasa puasa berasal dari kata Arab yaitu shaum yang berarti menahan. Dalam hal ini bisa dimaknakan menahan sebagai menahan diri dari lapar dan haus, menahan diri dari berbuat buruk, menahan diri dari keinginan menggauli istri pada siang hari. secara umum puasa adalah menahan diri untuk tidak berlebih-lebihan pada sesuatu. Misalnya dalam hal makan yang biasanya kita makan tiga kali sehari, dalam puasa kita hanya makan dua kali yakni pada berbuka dan sahur. Namun demikian, berbeda dengan yang kita saksikan akhir-akhir ini, fenomena melonjaknya harga bahan pokok selalu menjadi fenomena umum menjelang bulan puasa. 

Orang-orang berebut membeli bahan pokok untuk kepentingan bulan ramadhan. Anehnya, menu-menu yang dihidangkan pada bulan ramadhan entah mengapa selalu adalah menu-menu yang spesial. Menu-menu yang pada hari biasa jarang ditemukan pada keluarga-keluarga menengah bawah. Mereka seolah memiliki kewajiban untuk menghadirkan masakan yang enak dalam menjalani bulan puasa. 

Keadaan pasar yang demikian pada gilirannya menjadi masalah ekonomi, politik dan sosial. Secara ekonomi hal tersebut mendorong terjadinya kenaikan berbagai kebutuhan bahan pokok. Kemudian dari sisi politik menuntut untuk diberlakukan peraturan pemerintah yang mengatur pasar dan membuka kran impor. Adapun secara sosial euforia menyambut ramadhan dengan gaya hidup yang berkelas menyisakan persoalan sosial berupa semakin tercuatnya jarak antara yang mampu dan tidak mampu dalam konteks konsumerisme ramadhan. 

Telah terjadi semacam reduksi makna ramadhan, dari yang seharusnya bersifat spiritual menjadi ritual yang sangat materialistis konsumeristis. Makna ramadhan yang pada dasarnya berarti “menahan” menjadi sebaliknya, yaitu memuaskan keinginan diri, mewujudkan kebutuhan nonprimer seperti pemaksaan kehendak, berbelanja lebih dari budget biasanya, hingga rela berhutang untuk mewujudkan ramadhan yang “berkelas”.

Ramadhan dengan demikian tidak lagi membuat pelakunya menjadi lebih produktif tetapi justru menjadi lebih konsumtif. Para pelaku puasa dalam menyambut ramadhan bukan justru disibukkan dengan mempersiapkan fisik atau spiritualitas diri tetapi justru mengumpulkan bahan-bahan pokok untuk kepentingan perut semata. 

Ada dua kemungkinan, mengapa masyarakat akhir-akhir ini seolah begitu bersemangat untuk mempersiapkan bahan pokok yang lebih berkelas di setiap memasuki bulan ramadhan. Pertama adalah karena eksvansi pasar. Yaitu komodifikasi bulan ramadhan dalam berbagai iklan di media massa yang seolah menggambarkan bahwa tradisi berpuasa harus menghadirkan produknya guna kesempurnaan ibadah puasa. Dalam kacamata hermeneutik, citra yang dibuat media ini sangat memungkinkan menjadi dasar dari bangunan paradigma masyarakat tentang hakikat puasa itu. 

Kedua, masyarakat memiliki paradigma balas dendam saat menjalani berbuka puasa. Artinya pelaku puasa menjadikan momen berbuka adalah ajang untuk melampiaskan keroncongnya perut dan dahaganya tenggorokan. Akhirnya terjadilah sikap ingin memuaskan diri dengan menghadirkan menu-menu yang tidak biasanya (lebih mahal). Kenyataan ini juga semakin mengakar ketika sudah menjadi rutinitas kolektif masyarakat. Dengan kata lain paradigma tersebut mendeterminasi sikap masyarakat yang lain (yang sebelumnya mungkin belum terkontaminasi) untuk mengikuti gaya tersebut. 

Jika kita melihat kembali kepada makna puasa yang sesungguhnya, maka dua hal yang disebutkan di muka sangatlah jauh dari esensi ramadhan yang sesunggunya. Ramdhan pada dasarnya hadir untuk membangun mentalitas yang tidak berlebihan dan menumbuhkan spiritualitas diri dengan pengkajian nilai-nilai keagamaan di dalamnya. Apa yang disebutkan Rasulullah dalam haditsnya tentang kewajiban untuk berbahagia setiap memasuki bulan ramadhan bukanlah bereuforia dalam hal-hal yang bersifat materi, tetapi justru mempersiapkan mentalitas dan ketentraman batin untuk menghadapinya. 

Ramadhan bukanlah momen untuk meliarkan keinginan bergerak bebas dan memuaskannya pada momen berbuka puasa. Bukan lahan iklan yang dipaksa direduksi maknanya untuk kepentingan pasar. Ramdhan memiliki makna yang justru berkebalikan dengannya. Dia adalah momen untuk membangun spiritualitas diri, membangun kepekaan sosial, mewujudkan tatanan yang lebih baik melalui pengendalian diri serta ajang untuk membangun mentalitas yang berkecukupan.

Semoga ramadhan kali ini, kita tidak terjebak dalam pemaknaan yang sempit bahkan jauh dari hakikat sesungguhnya dari bulan suci. Seyogyanya kita membangun paradigma yang lebih spiritual dari hanya sekedar kebutuhan-kebutuhan duniawi yang menipu.

1 komentar:

Viagra mengatakan...

terima kasih gan atas infony...
vimax asli
viagra
viagra asli
klg
obat kuat
vimax

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz