Selasa, 06 September 2016

Ahok dalam Pusaran Berbagai Kepentingan




Ahok menjadi fenomena yang menggemparkan media masa saat ini. Karakter kepemimpinannya yang unik membuat namanya dielukan banyak orang baik di daerah Jakarta secara khusus maupun di luarnya. Dia dikenal sebagai pemimpin yang tegas, konsisten, dan anti kemunafikan (korupsi). Namun di saat yang sama, Ahok juga dihadapkan dengan manuver beberapa partai politik ataupun komunitas yang ingin mengkriminalisasi dan menjegalnya menuju Jakarta satu pada tahun depan. Itu adalah konsekuensi ketika melakukan tindakan yang menentang berbagai kepentingan lawan. Dia dinilai membuat lawan politiknya kebakaran jenggot dan membuat lahan korupsi anggota dewan di Jakarta menyempit.

Di tengah keputusanuntuk mencalonkan dirinya kembali sebagai gubernur, berbagai isu pun digulirkan, tentang masalah rumah sakit Sumber Waras, reklamasi teluk dan berbagai isu lainnya. Berbagai isu tersebut mencoba menjerat langkah sang gubernur. Namun mungkin teramat sulit untuk menggoyahkan Ahok. Wajah polos dan tegasnya seperti kejujuran yang sangat mudah dipahami. Rakyat pasti akan mendukung dirinya atas nama kecintaan pada pemimpin. Masyarakattentu telah belajar banyak dari para pemimpin mereka yang dusta. Yaitu para pemimpin yang menjanjikan kebaikan tetapi justru melakukan kejahatan, mereka yang menjanjikan kesejahteraan tapi justru hanya melahirkan kemelaratan.

Rakyat sudah teramat lumrah dengan pemimpin yang meskipun bertopi dan berdasi, ujung-ujungnya melakukan korupsi. Juga sudah terbiasa dipermainkan calon-calonpemimpin yang menjual agama dalam berkampanye padahal hanya untuk kepentingan politik semata. Iya, kita sudah kenyang. Bangsa ini butuh pemimpin yang tulus dan apa adanya,bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan. Sebagaimana Austin, dibutuhkan kata yang selaras dengan tindakan.

Dalam keadaan seperti itu, Ahokadalah sosok yang memberikan harapan. Dia datang dengan kepolosan, ketegasan dan konsistensi pada ucapan. Itulah kenapa Ahok seperti memiliki jutaan kaki. Dia setara dengan partai-partai. Kekuatan di balik independensi Ahok setara dengan koalisi-koalisi. Masyarakat mungkin telah jatuh cinta dan sungguh-sungguh untuk mendukungnya.

Momentum briliannya Ahok memimpin Jakarta semakin tercium ketika satu demi satu kasus korupsi orang-orang yang kontra dengannya mengelupas. DPRD Jakarta misalnya, yang sejak awal kepemimpinan Ahok sering kali terlibat perseteruan dengan sang gubernur, kini masyarakat melihat bagaimana busuknya orang-orang yang duduk di kursi dewan itu. Juga beberapa tokoh lainnya yang awalnya melancarkan serangan kepada Ahok, sekarang lebih banyak diam karena melihat realita.

Ahok kemudian menjadi kekuatan yang sangat besar. Eksistensinya diperhitungkan untuk mengalahkan berbagai calon gubernur lain dari partai politik. Sekilas Ahok mungkin terlalu berani dengan mencalonkan diri secara independen (hal yang membuat berbagai kalangan begitu reaktif menyerangnya). Disamping membutuhkan lebih banyak kartu tanda penduduk, hal tersebut tentu saja tidak mudah dalam melawan kekuatan partai politik. Namun demikian jika kita mengukur secara substansial kekuatan antara Ahok dan partai politik atau bahkan aliansi partai politik, kekuatan Ahokbisa jadi lebih besar. Jika partai politik mendapatkan dukungan dari masyarakat yang berafiliasi dengan partai mereka secara khusus, maka Ahok tidak mengikat dukungan pada afiliasi kelompok tertentu. Dukungannya berasal dari masyarakat secara umum. Mereka mendukung dengan kerelaan bukan dengan ekspektasi dan uang.

Ujung terowongan dari independensi Ahok adalah elektabilitasnya yang permanen. Artinya ketika masyarakat telah melihat sosok Ahok sebagai sosok yang mewakili hasrat dan keinginan mereka, maka mereka telah menyerahkan seluruh kepercayaan mereka kepada Ahok. Ini bisa dilihat dari berbagai pembelaan yang dilakukan masyarakat di media massa ataupun di dunia nyata terhadapAhok. Adanya dukungan KTP dari rakyat Jakarta yang di luar negeri menjadi salah satu buktinya.

Dengan data tersebut, Ahok seperti kekuatan berbagai aliansi partai politik. Independensinya setara dengan komunitas-komunitas partai politik. Namun demikian, kita masih belum tau jalan politik kedepannya. Sebagaimana biasa, Politik selalu menghendaki jalurnya sendiri. Meskipun masyarakat saat ini sudah menemukan momentumnya untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan kehendak nurani mereka, tetapi politik masih lebih digdaya untuk menentukan jalur. Berbagai wacana kriminalisasi Ahok menjadi salah satu proses politik yang sangat nyata untuk menentukan nasib gubernur itu melanjutkan roda kepemimpinannya.

Sisa-sisa dari permainan politik nantinya, hanya tentang suatu kesimpulan kecil yang mana demokrasi menjadi kambing hitam yang utama. Bagaimanapun nasib Ahok dalam pusaran berbagai kepentingan, yang jelas mata rakyat telah dibuka untuk melihat mana pemimpin mereka yang sungguh-sungguh berjuang dan mana yang hanya menginginkan jabatan dan uang. 

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz