Selasa, 06 September 2016

Masjid Sebagai Sentrum Perubahan Sosial



Masjid memiliki peran penting bagi umat muslim secara khusus. Di samping sebagai tempat menunaikan solat berjamaah, masjid juga menjadi pusat pengkajian ilmu-ilmu agama ataupun musyawarah desa. Belakangan waktu, pembangunan masjid di desa-desa terutama di pulau Lombok semakin menjamur. Tidak heran jika kemudian pulau tersebur bergelar pulau “seribu masjid”. Mulai dari kota-kota hingga ke pelosok desa, masyarakat begitu antusias untuk membangun tempat ibadah mereka. Hasilnya hingga saat ini masjid-masjid yang berdiri sudah sangat banyak dengan fisik yang cukup menawan. Namun demikian, masalah kemudian muncul setelah masjid selesai dibangun yakni jamaah yang tak pernah ramai berkunjung serta masyarakat yang tak kunjung menunjukkan spiritualitas dengan adanya tempat ibadah tersebut. Masjid kemudian menjadi bangunan megah yang sepi secara lahir dan batin.

Proses pendirian masjid meskipun rata-rata menghabiskan dana yang besar, tak pernah membuat euforia masyarakat tertahan. Dengan dana swadaya yang dikumpulkan masyarakat, masjid bisa dibangun dengan sangat megah, bahkan dengan tanpa bantuan dari pemerintah sekalipun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki semangat yang sangat kuat dalam mendirikan tempat ibadah mereka.

Ada berbagai cara masyarakat untuk menjaring dana secara swadaya, mulai dari “mencegat”kendaraan yang lewat di jalanan depan masjid, turun ke pasar-pasar, hingga mengandalkan momen hari besar keagamaan untuk membuat kotak amal yang besar. Dengan cara-cara tersebut, tidak heran masjid yang mereka bangun hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk menyelesaikannya. Rata-rata di pulau Lombok, masjid dibangun hanya dalam dua hingga tiga tahun dengan rancangan bangunan yang megah tentunya.

Pengumpulan dana untuk masjid tetap berlangsung bahkan setelah bangunan masjid selesai. Oleh karena itu, masjid biasanya memiliki saldo rekening yang cukup besar. Bahkan angka di rekening masjid bisa mencapai ratusan juta. Sayangnya jumlah saldo yang besar itu tidak dimaksimalkan dengan baik bahkan terus menumpuk dari waktu ke waktu. Pengeluaran biasanya hanya seputar bayar listrik, perbaikan kecil, dan honorium petugas yang jumlahnya tidak terlalu banyak.

Sebenarnya jika melihat posisi strategis masjid dalam sosial masyarakat, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mensejahterakan masyarakat sekitar masjid, yaitu dengan memaksimalkan dana amal masjid untuk kegiatan sosial keagamaan atau bahkan aktivitas ekonomi masyarakat. Secara tehnis bisa dipetakan dalam beberapa poin berikut ini:

Pertama, dana masjid bisa dimaksimalkan untuk meingkatkan kualitas takmir masjid dengan meninggikan honorium mereka. Sejauh ini pengurusan masjid cendrung dilakukan “setengah-setengah” karena takmir masjid memilki kesibukan yang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Dengan kata lain takmir bisa dijadikan sebagai profesi dengan memberikan kualifikasi gaji yang setara dengan pekerjaan harian pada umumnya. Secara konseksual hal ini akan memicu takmir lebih berkualitas dan profesional. Penentuan jumlah gaji ini bisa dilakukan dengan berdasar pada Upah Minimun Regional (UMR) yang berlaku di daerah terkait.

Kedua, dana yang cukup besar itu, bisa digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan rutin lainnya yang melibatkan masyarakat di dalamnya. Kegiatan semacam ini penting untuk merekatkan solidaritas masyarakat dan menjalin komunikasi yang lebih baik dan berkualitas di dalamnya. Adanya program rutin yang diadakan untuk masyarakat akan menurunkan tensi ketegangan yang mungkin ada di tengah-tengah masyarakat. Di samping itu, adanya interaksi komunitas tersebut akan memudahkan komunikasi antar golongan dari masyarakat, yaitu golongan tua, muda dan anak-anak. Pada gilirannya aktivitas tersebut akan memberikan dampak perbaikan sosial.

Ketiga, dana yang dimiliki masjid bisa digunakan untuk pembukaan “Bank Mini” oleh masjid atau semacam koperasi yang menggunakan dana masjid. Koperasi tersebut kemudian memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan dana pinjaman usaha. Perlu dicatat bahwa peminjaman hanya untuk kepentingan berusaha, tidak yang lain. Hal ini untuk kepastian pengembalian nantinya. Adanya konsep “Koperasi Masjid” ini akan sangat membantu bagi masyarakat di sekitar masjid yang kurang mampu.

Semua poin di atas akan menjadikan masjid sebagai sentrum perubahan sosial. Artinya masjid tidak terpaku pada kegiatan solat berjamaah semata tetapi mencakup berbagai hal penting lainnya berkaitan dengan bidang-bidang kehidupan. Dalam bidang ekonomi misalnya, maksimalisasi dana amal masjid akan memicu perbaikan ekonomi masyarakat di sekitar masjid atau desa tempat keberadaannya. Kemudian secara sosial, hal tersebut akan membuka lapangan pekerjaan bagi takmir secara langsung ataupun melalui koperasi masjid secara tidak langsung, dan tentunya akan menekan angka pengiriman tenaga kerja (TKI) ke luar negeri yang belakangan ini angka keberangkatan TKI ke luar negeri (khususnya daerah Lombok) sudah sangat mengkhawatirkan secara sosial maupun budaya.


0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz