Selasa, 06 September 2016

Mencegah Tindakan Bunuh Diri









Beberapa hari terakhir banyak kita saksikan di media massa kasus bunuh diri yang terjadi di negeri ini,seperti yang terjadi di Jakarta, Nganjuk, Blitar dan lain sebagainya. Salah satu contoh teranyar adalah mahasiswa UI yang bunuh diri kamar kosnya dengan menggantung diri.Secara umum data menunjukkan bahwa pada tahun 2014 kasus bunuh diri di indonesia setara dengan Jepang yakni mencapai 10.000 per tahun. (Tempo.co)
Banyak para pelaku bunuh diri melakukan perbuatan tersebut karena perasaan stres yaitu karena masalah ekonomi, asmara dan sebagainya. Yang paling lumrah menjadi penyebabnya adalah masalah ekonomi. Misalnya beberapa kasus yang terjadi di ibu kota yang memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartemennya di lantai yang cukup tinggi. Ada pula yang memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri.

Selain masalah ekonomi, bunuh diri juga sering kali dilakukan karena alasan asmara. Motif semacam ini banyak dilakukan oleh para muda-mudi yang masih berstatus ABG.

Secara akademis, berbicara bunuh diri tentu kita akan sampai pada kajian komprehensif yang dilakukan oleh Durkheim dalam karyanya yang terkenal Suicide. Tulisan tersebut mengulas secara komprehensif fenomena bunuh diri dengan mengelaborasi motif, faktor, serta dampak sosial dari perbuatan tersebut. sebagaimana kasus di atas, suicide juga mengemukakan bahwa para pelaku bunuh diri  kebanyakan didorong oleh keadaan ekonomi. Namun tidak hanya itu, durkheim mencatat bahwa ada masalah agama, psikologi dan interaksi sosial dalam masalah bunuh diri.

Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Durkheim, fenomena bunuh diri saat ini menjadi persoalan serius karena perbuatan tersebut bukan merupkan solusi, namun justru menambah masalah dalam kehidupan. banyak ditemukan keluarga pelaku bunuh diri menjadi terlantar karena dia sebagai tulang punggung keluarga telah lari dari tanggung jawabnya.

Untuk itu dibutuhkan langkah strategis dalam upaya mencegah perbuatan bunuh diri. mengingat sifatnya yang final dalam arti ketika sudah terjadi tidak bisa dikembalikan atau diurungkan, maka kejahatan tersebut hanya bisa disikapi dengan tindakan-tindakan preventif. Oleh karena itu ada beberap hal yang perlu dilakukan untuk mencegah perbuatan bunuh diri.

Pertama, membangun sikap kepercayaan diri pada setiap orang yang berpotensi bunuh diri. langkah ini harus dilakukan oleh orang-orang terdekat berupa kekasih dan keluarga. Peran kekasih dan keluarga menjadi sangat penting dalam membendung situasi psikologis yang dialami seseorang. Tidak adanya orang yang bisa diajak berbagi keluh dalam masalah yang dihadapi sering kali memicu stres dan mendorong kepada tindakan bunuh diri tersebut. itulah kenapa orang yang individualis lebih rawan melakukan bunuh diri karena biasanya mereka memendam sendiri apa yang mereka rasakan.

Keluarga sebagai basis orientasi terbesar seseorang dalam hidupnya selayaknya memiliki peran yang kuat dalam menjaga eksistensi anggota keluarganya dengan memperhatikan mereka tidak hanya secara materi tapi juga immateri berupa kebutuhan psikologis. orang tua bukan seperti bos yang hanya menggaji anaknya tapi dia harus berperan ganda yakni menjadi guru, dokter, sahabat bagi anaknya.

Kedua, lingkungan sosial harus bisa membangun paradigma individu untuk lebih bersemangat dan menghargai kehidupannya. Hal ini bisa dibangun dengan adanya kontrak sosial dalam suatu komunitas. Artinya seseorang telah diikat dalam aturan tak tertulis untuk saling memperhatikan dan merangkul dalam kehidupan. tindakan ini pada gilirannya akan memberikan dampak kerekatan sosial yang positif dan sangat efektif dalam mencegah seseorang untuk mengakhiri hidupnya.

Dalam kajian filsafat moral bentuk kontrak sosial ini diperlukan dalam upaya membangun paradigma individu yang lebih terkontrol. Konsekuensi yang paling diharapkan dari kontrak sosial adalah kenyamanan psikologis untuk melihat bahwa mereka hidup tidak sendirian.

Ketiga, peran agama sangat penting sebagai benteng psikolgis seseorang untuk mencegah diri dari berbuat bunuh diri. bisa dipastikan tidak ada satu agamapun yang membolehkan penganutnya bunuh diri dengan tanpa manfaat. Agama justru mengajarkan manusia untuk terus berpositif thinking dan menjalani hidup dengan sungguh-sungguh. Agama selalu mengajarkan pemeluknya untuk memberikan manfaat kepada orang lain, bukan justru lari dari tanggung jawab kehidupan.

Dengan adanya pengaturan tensi psikologis dari agama serta benteng sosial dari anggota masyarakat maka tindakan-tindakan yang sia-sia seperti bunuh diri tidak perlu terjadi di kehidupan ini. Tidakkahhidup memang satu kali dan seyogyanya kita memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. 

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz