Selasa, 06 September 2016

Menguatkan Peran Keluarga dalam Mendidik Anak




Masih segar dalam ingatan beberapa rentetan pristiwa keji tentang kekerasan seksual maupun anarkisme pelajar (anak) yang ramai dibicarakan di media-media lokal maupun nasional. Mulai dari kasus pemerkosaan dan pembunuhan atas Yuyun yang menjadi nafas awal bergulirnya aksi “Nyala untuk Yuyun” kemudian kasus pemerkosaan yang terjadi di Surabaya dan berbagai kasus serupa yang terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Ironisnya para pelaku kejahatan tersebut adalah anak-anak yang masih dikategorikan berusia dini. Lebih parah lagi status mereka masih sebagai pelajar di SMP bahkan SD. Oleh karena itu beberapa kalangan secara terang-terangan menuduh kejadian-kejadian tersebut sebagai kegagalan dunia pendidikan. Selain lembaga pendidikan keluarga juga dituduh lalai dalam mengkanter pendidikan anak untuk tidak bertingkah amoral. Peran keluarga dinilai masih sangat minim dalam proses internalisasi nilai-nilai pendidikan. Hal ini sesuai dengan beberapa survey maupun kajian komprehensif yang dilakukan oleh beberapa media massa.

Kompas misalnya, dalam sebuah survey yang dilakukan pada bulan April lalu menyimpulkan bahwa peran orang tua terhadap anak dalam masalah pendidikan masih sangat minim. Demikian pula dalam sebuah diskusi yang dimuat dalam koran Kedaulatan Rakyat yang menilai bahwa keluarga harus berperan dalam mendidik anak terutama masalah pendidikan moral. Menurut Prof. Endang sumiarni, keluarga harus mendidik anak berdasarkan nilai-nilai lokal masing-masing. Endang menegaskan bahwa ketika keluarga berlepas diri dari pendidikan anggotanya maka akan lahir generasi yang tercerabut dari karakter budayanya (lost generation).
Terkait hal tersebut, saya melihat bahwa peran keluarga harus dikuatkan dalam membangun karakter anak. Sebagai sekolahan pertama (madrasah ula) keluarga harus menjadi pondasi kuat dalam membangun karakter anak. Pendidikan di keluarga seperti dasar dalam suatu bangunan. Artinya apa yang diajarkan keluarga menjadi fondasi bagi apa yang dipelajari siswa di sekolah. Sebagus apapun sekolah formal seorang anak ketika pendidikan di keluarganya buruk, bisa jadi hasilnya tidak akan pernah lebih baik.

Pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak telah banyak dikemukakan oleh para pemikir pendidikan maupun para filosof. Munif Chatib misalnya mengatakan bahwa anak juga manusia. Artinya anak juga berhak didik dalam upaya membangun dirinya sebagai seorang manusia (memanusiakan manusia). Konfisius dalam The Great Learningjuga mengungkapkan betapa pentingnya pendidikan keluarga bagi anak.

Secara tehnis ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam upaya menguatkan peran keluarga dalam pendidikan anak. Pertama, membangun kesadaran untuk membentuk karakter anak. Poin ini mengharuskan orang tua memiliki karakter yang baik dalam upaya membentuk karakter anak. Sebagaimana dikatakan bahwa anak memang bukan pembelajar yang cepat, tapi dia adalah peniru yang handal. Dengan demikian adanya kesadaran moral secara kolektif dalam keluarga akan memberikan dampak positif dalam pembangunan karakter anak.

Kedua, mendidik dengan cinta. Poin ini mengharuskan keluarga (orang tua) mendidik anak tidak dengan kekerasan maupun kebencian. Model pendidikan ini amat dibutuhkan terlebih pada masa-masa emas (golden age) anak. Abraham Maslaw mengatakan bahwa manusia (anak) butuh mengaktualisasikan dirinya. Kita tahu, dalam mengaktualisasi dirinya manusia cendrung dideterminasi oleh sosialnya. Oleh karena itu ketika suatu keluarga baik maka akan mampu membentuk aktualisasi anak ke arah yang lebih baik pula.

Ketiga, keluarga harus senantiasa membangun sinergi dengan lembaga sekolah si anak agar pengawasan terhadap prilaku mereka tetap bisa dilakukan. Dengan kata lain mengawasi anak bukan hanya tugas guru, juga bukan hanya tugas orang tua. Mereka harus bekerja sama dalam mengawasi anak. Bentuk sinergi ini hendaknya dibangun secara kultural. Sejauh ini hubungan guru dan wali murid hanya berlangsung dalam hubungan formalitas yang diadakan satu kali enam bulan yakni pada akhir semester.

Melihat fenomena amoral yang sudah sangat mengkhawatirkan dewasa ini, membuat peran berbagai pihak untuk ikut andil dalam perbaikan pendidikan harus segera dilakukan. Keluarga sebagai basis terbesar orientasi anak pada masa awal-awal kehidupan sangat penting sebagai “sekolah” pembentuk mental anak yang lebih baik. Diharapkan dari peran keluarga yang kuat dalam mendidik anak akan mampu membangun generasi yang tidak membuat kekacauan sosial tapi justru sebagai penebar damai dalam kehidupan.

Pendidikan keluarga dengan demikian dimulai dengan baiknya sikap orang tua dan anggota keluarga yang selanjutnya ditularkan kepada anak. Sebagai output dari teguhnya peran keluarga, menarik menyimak pernyataan Konfisius yang mengatakan, ketika kehidupan keluarga ditata teratur maka kehidupan sosial dan nasional tertatakan, dan ketika kehidupan nasional tertata maka ada damai di muka dunia.


0 komentar:

Poskan Komentar

Posting Lama ►
 

Advertising

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

visitors

Copyright © 2012. Menggenggam Hikmah - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz